Wahyuni Tahir dan Syatriani, mendapatkan pengalaman berharga. Dua guru madrasah tsanawiyah Pesantren Sultan Hasanuddin, Gowa, Sulawesi Selatan ini mendapat kesempatan mengajar di Australia. Uniknya, guru madrasah ini kebagian "jatah" mengajar di sekolah Kristen.



Tempat mengajar mereka jauh berbeda dengan sekolah asal. Demikian pula dengan mata pelajaran yang diajarkan. Mereka mengajar di Waikerie Lutheran Primary School, sebuah sekolah dasar milik yayasan Kristen Lutheran di Waikerie, South Australia.

Awalnya, Wahyuni Tahir dan Syatriani sempat khawatir karena masalah agama. Fakta kemudian berkata lain ketika mereka menginjakkan kaki di sekolah itu. 

"Ada toleransi, kami dari pesantren. Kami malah diberi waktu untuk salat lima waktu. Salat ada ruang khusus di perpustakaan. Tak boleh ada suara saat kami salat. Luar biasa. Sekolah ini adalah sekolah Kristen," kata Wahyuni dan matanya berkaca-kaca saat menceritakan toleransi antaragama di Negara Kanguru

Kepada jurnalis dan perwakilan kedutaan serta konsultan, Wahyuni dengan Syatriani mengaku sangat senang dapat mengikuti program BRIDGE. Selama tiga pekan di Austalia, mereka mendapat metode pengajaran yang jauh lebih maju dibanding di Indonesia. (Sumber: tribunews)


>